Paulus Tjen On Ngie: Ketika Iman Awam Menjadi Pondasi Gereja
Sebelum ada Keuskupan Pangkalpinang, sebelum gereja berdiri di mana-mana, ada satu sosok awam yang berani melangkah lebih dulu: Paulus Tjen On Ngie.
Dia bukan pastor, bukan biarawan, tapi imannya real dan kelihatan lewat tindakan.
Kita sering mikir kalau perubahan besar selalu dimulai dari orang besar. Tapi sejarah Gereja di Bangka justru berkata sebaliknya. Semuanya berawal dari satu iman yang dijalani dengan setia oleh Paulus Tjen On Ngie, seorang awam biasa, yang tanpa banyak sorotan, ikut membentuk arah Gereja Katolik di Bangka.
Siapa Paulus Tjen On Ngie?
Paulus Tjen On Ngie adalah umat Katolik keturunan Tionghoa yang lahir di Cungphin Tiongkok pada tahun 1795 dan hidup di Pulau Bangka pada abad ke-19. Ia adalah seorang tabib yang bekerja mengobati para kuli parit di tambang-tambang timah di Sungaiselan. Di rumah Paulus Tjen On Ngie terdapat semacam altar, disertai salib, patung dan gambar orang kudus serta buku doa berbahasa Tionghoa.
Di masa itu belum banyak imam, Umat Katolik masih sedikit, Hidup sebagai Katolik itu nggak gampang, Tapi dia tetap setia.
Paulus Tjen On Ngie jadi penggerak komunitas iman, Jadi penghubung umat dengan misionaris, Bikin iman Katolik di Bangka nggak padam.
Tanpa orang seperti dia, mungkin Gereja Katolik di Bangka nggak akan berkembang seperti sekarang.
Iman Itu Bukan Cuma Status, Paulus Tjen On Ngie ngajarin satu hal penting: Jadi Katolik itu bukan cuma soal identitas, tapi soal hidup.
Dia bukti kalau: Awam juga bisa jadi game changer, nggak perlu jabatan buat melayani, Iman yang dijalani sungguh-sungguh itu berdampak panjang
Jadi kita nggak harus nunggu “siap sempurna”, mulai aja dari komunitas kecil
Paulus Tjen On Ngie memulai dari yang kecil, tapi efeknya sampai hari ini: lahirnya Keuskupan Pangkalpinang.
Kisah Paulus Tjen On Ngie mengingatkan kita bahwa Gereja bertumbuh bukan terutama karena hal-hal besar dan terlihat atau bangunan megah atau struktur resmi, melainkan karena kesetiaan yang dijalani dengan jujur setiap hari. Ia tidak menunggu waktu yang sempurna atau peran yang istimewa. Ia hanya setia pada iman yang ia miliki, iman sederhana seorang awam yang berani bersaksi dan dari sanalah Gereja di Bangka menemukan pijakannya.
Paulus Tjen On Ngie, Rasul Awam, Perintis Gereja Katolik Keuskupan Pangkalpinang meninggalkan dunia ini pada tanggal 14 September 1871 di Sungaiselan. Makam Paulus Tjen On Ngie di Sungaiselan menjadi salah satu tempat ziarah bagi umat Katolik. Jaraknya sekitar 36 KM dari pusat kota Pangkalpinang, bisa ditempuh sekitar 50 menit perjalanan dengan mobil atau motor.
Hari ini, kisah ini berlanjut pada kita, bahwa iman yang hidup tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari hati yang setia. Sebagai umat awam, ia membuktikan bahwa keberanian, ketulusan, dan kesediaan melayani mampu menjadi fondasi Gereja bagi generasi berikutnya. Teladannya mengajak kita untuk tidak hanya percaya, tetapi juga berani bersaksi lewat tindakan nyata di tempat kita berada, dengan cara kita sendiri. Karena sering kali, dari kesetiaan yang sederhana, Tuhan menghadirkan karya yang luar biasa.
Jika kisah ini menguatkanmu, simpanlah dalam hati atau bagikan kepada sesama agar iman yang sederhana terus menyalakan iman yang lain.
Gambar hanya ilustrasi
